Sabtu, 26 Oktober 2013

Contoh Pidato

Contoh Pidato – Berpidato adalah berbicara di depan khalayak masyarakat dengan cara tertentu untuk mencapai sebuah tujuan tertentu pula. Berpidato juga dibedakan menjadi dua pilihan, yaitu berpidato panjang dan singkat. Yang paling diminati oleh masyarakat adalah pidato singkat, sebab lebih mudah untuk dipahami isi dari pidato tersebut, tidak berbelit-belit dan panjang lebar.
Pendengar akan lebih menyukai pidato singkat karena informasi yang disampaikan dapat dimengerti tanpa harus berpanjang lebar. Pidato singkat juga tidak akan membuat pendengar bosan, sebab biasanya membahas mengenai hal-hal sekitar yang dapat menarik pendengar namun sederhana untuk di mengerti.
contoh pidato

Contoh Pidato

Namun sebelum anda memutuskan untuk berpidato, tidak ada salahnya untuk mengetahui hal sederhana dalam Contoh Pidato yang bisa menjadi acuan sebelum anda berpidato, seperti berikut:
Pembukaan
Perkenalan diri pembaca
Gambaran umum tentang isi pidato
Humor sebagai penyegar
Ilustrasi yang relevan mengenai isi pidato
Lain-lain
Isi atau Uraian
Penjelasan dari isi pidato
Alasan dari isi pidato
Bukti dan ilustrasi mengenai isi pidato
Contoh atau perbandingan dari topik pidato
Cerita dan humor yang relevan
Lain-lain
Penutup
Kesimpulan dari isi pidato
Ajakan kepada pendengar untuk melakukan sesuatu
Penegasan isi pidato
Lain-lain
Beberapa hal penting seperti diatas dapat dijadikan acuan bagi anda yang ingin berpidato. Namun untuk lebih jelasnya lagi, dibawah ini ada contoh pidato singkat yang bisa menjadi referensi bagi anda.
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberi nikmat serta karunia-Nya sehingga kita semua dapat berkumpul bersama di hari yang berbahagia ini.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah menuntun kami semua hingga saat ini.
Dan kepada Yth. Bapak/Ibu… yang saya hormati dan teman-teman semua yang saya cintai, kita semua pasti sudah sering mendengar mengenai penebangan liar yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak memiliki kepedulian kepada kelestarian alam sekitar. Sungguh sangat prihatin atas kebiasaan buruk yang dilakukan dengan mengatasnamakan bisnis namun mengesampingkan kelestarian hutan yang merupakan titipan untuk anak cucu kita kelak.
Beberapa ribu meter kubik kayu yang telah mereka jarah. Sementara setelah itu mereka tinggalkan lahan yang sudah semakin kritis yang bisa membahayakan saudara kita yang lain dengan kemungkinan seperti bencana banjir yang bisa mengancam masyarakat semua.
Teman-temanku,
Sadarlah, bahwa lingkungan kita ini merupakan sistem yang saling keterkaitan antara satu dengan lainnya. Jika salah satunya mengalami kerusakan tentunya bagian lainnya akan merasakan akibatnya.
Maka dari itu, berhentilah untuk merusak hutan, penebangan liar. Mari jagalah lingkungan alam sekitar. Lestarikan lingkungan kita sebagai wujud syukur kepada Sang Maha Pencipta. Berikan hak anak cucu kita dengan alam yang lestari untuk berlangsungnya hidup dengan segenap komponen alam. Sampai disini yang dapat saya sampaikan dalam pidato ini, jikalau ada kesalahan mohon untuk dimaklumi.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Contoh Pidato

Contoh pidato seperti diatas termasuk dalam pidato singkat dengan tema lingkungan hidup, yang bisa menjadi referensi bagi anda dan dimodifikasi sesuai dengan topik masalah yang akan disampaikan nanti. Semoga ulasan Contoh Pidato seperti diatas dapat bermanfaat dan bisa menjadi referensi bagi anda.

Obat Pelangsing dan Pengaruhnya terhadap Ginjal

Di antara tengah maraknya penggunaan metode invasif (pembedahan dan penyuntikan) untuk memperoleh tubuh yang ideal, animo masyarakat yang menggunakan produk pelangsing oral belum juga berkurang. Wajar jika metode ‘meminum obat pelangsing’ ini masih diminati, sebab metode ini terbilang murah dan jika dilihat dari sudut pandang masyarakat awam, metode ini dinilai lebih aman. Padahal tidak demikian adanya,  metode invasif maupun noninvasif sama-sama memiliki risiko yang boleh jadi pada satu kasus tertentu menjadi sama bahayanya.
Mungkin, sebagian masyarakat Indonesia berhasil diyakinkan bahwa /tablet pelangsing herba lebih aman, dikarenakan kandungan simplisia yang berasal dari alam. Pada kenyataannya beberapa obat pelangsing serupa ditarik dari peredaran karena terbukti mengandung senyawa kimia berbahaya, seperti aristolochic acid. Senyawa ini berbahaya untuk ginjal.
Di pasaran, jenis-jenis obat pelangsing yang biasa dijual antara lain yang pertama berasal dari senyawa golongan amphetamin yang menurunkan nafsu makan, preparat hormon tiroid yang membakar energi secara berlebihan, atau juga diuretik, yang menurunkan berat badan dengan mengurangi volume cairan dalam tubuh. Semua obat pelangsing dapat memiliki efek negatif terhadap fungsi organ tubuh dan metabolisme jika tidak digunakan sesuai dosis. Pada individu dengan fungsi ginjal normal, efek penurunan berat badan yang wajar berkisar 3-4 kg.
Beberapa obat sering disalahgunakan sebagai pelangsing, antara lain obat pencahar dan obat diuretik. Padahal keduanya tidak menurunkan berat badan secara permanen. Efek berat-badan-turun disebabkan oleh volume/bobot sel mengecil akibat cairan yang dikeluarkan. Jika berlebihan, dapat terjadi dehidrasi, dan mengingat kerja obat-obat dalam ginjal dan hati (liver), hal ini dapat berakibat pada gagal ginjal atau radang hati (hepatitis). Disarikan dari berbagai sumber. (Sumber Halal Guide)

Pangan Fungsional untuk Kesehatan yang Optimal

Oleh: Made Astawan
Orang-orang yang bijaksana sering mengatakan bahwa "kesehatan adalah harta yang paling berharga dalam hidup ini". Sehat dan bugar adalah dua kunci yang sebaiknya dimiliki oleh setiap orang agar hidup ini menjadi lebih bermakna. Untuk mewujudkannya antara lain dapat kita lakukan melalui pengaturan makanan.
Dalam kehidupan modern ini, filosofi makan telah mengalami pergeseran, di mana makan bukanlah sekadar untuk kenyang, tetapi yang lebih utama adalah untuk mencapai tingkat kesehatan dan kebugaran yang optimal.
Fungsi pangan yang utama bagi manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan zat-zat gizi tubuh, sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktivitas fisik, dan bobot tubuh. Fungsi pangan yang demikian dikenal dengan istilah fungsi primer (primary function). 
Selain memiliki fungsi primer, bahan pangan sebaiknya juga memenuhi fungsi sekunder (secondary function), yaitu memiliki penampakan dan cita rasa yang baik. Sebab, bagaimanapun tingginya kandungan gizi suatu bahan pangan akan ditolak oleh konsumen bila penampakan dan cita rasanya tidak menarik dan memenuhi selera konsumennya. Itulah sebabnya kemasan dan cita rasa menjadi faktor penting dalam menentukan apakah suatu bahan pangan akan diterima atau tidak oleh masyarakat konsumen.
Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian bergeser. Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh.
Fungsi yang demikian dikenal sebagai fungsi tertier (tertiary function). Saat ini banyak dipopulerkan bahan pangan yang mempunyai fungsi fisiologis tertentu di dalam tubuh, misalnya untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan penyerapan kalsium, dan lain-lain. Semakin tinggi tingkat kemakmuran dan kesadaran seseorang terhadap kesehatan, maka tuntutan terhadap ketiga fungsi bahan pangan tersebut akan semakin tinggi pula.
Apa itu pangan fungsional?
Dasar pertimbangan konsumen di negara-negara maju dalam memilih bahan pangan, bukan hanya bertumpu pada kandungan gizi dan kelezatannya, tetapi juga pengaruhnya terhadap kesehatan tubuhnya (Goldberg, 1994). Saat ini pangan telah diandalkan sebagai pemelihara kesehatan dan kebugaran tubuh. Bahkan bila dimungkinkan, pangan harus dapat menyembuhkan atau menghilangkan efek negatif dari penyakit tertentu.
Kenyataan tersebut menuntut suatu bahan pangan tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan dasar tubuh (yaitu bergizi dan lezat), tetapi juga dapat bersifat fungsional. Dari sinilah lahir konsep pangan fungsional (fungtional foods), yang akhir-akhir ini sangat populer di kalangan masyarakat dunia.
Kepopuleran tersebut ditunjang oleh suatu keyakinan bahwa di dalam pangan fungsional terkandung gizi-gizi dan zat-zat non gizi yang sangat penting khasiatnya untuk kesehatan dan kebugaran tubuh.
Fenomena pangan fungsional telah melahirkan paradigma baru bagi perkembangan ilmu dan teknologi pangan, yaitu dilakukannya berbagai modifikasi produk olahan pangan menuju sifat fungsional. Saat ini, di Indonesia telah banyak dijumpai produk pangan fungsional, baik yang diproduksi di dalam negeri maupun impor.
Sejak tahun 1984, Pemerintah Jepang telah menyusun suatu alternatif pengembangan pangan fungsional dengan tujuan untuk memperbaiki fungsi-fungsi fisiologis, agar dapat melindungi tubuh dari penyakit, khususnya penyakit degeneratif seperti jantung koroner, hipertensi, diabetes, osteoporosis, dan kanker. Diharapkan dengan pengembangan pangan fungsional dapat meningkatkan derajat kesehatan serta menekan biaya medis bagi masyarakat Jepang.
Sampai saat ini belum ada definisi pangan fungsional yang disepakati secara universal. The International Food Information (IFIC) mendefinisikan pangan fungsional sebagai pangan yang memberikan manfaat kesehatan di luar zat-zat dasar.
Menurut konsensus pada The First International Conference on East-West Perspective on Functional Foods tahun 1996, pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di luar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya.
Definisi pangan fungsional menurut Badan POM adalah pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan. Serta dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Selain tidak memberikan kontraindikasi dan tidak memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat gizi lainnya.
Golongan senyawa yang dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu di dalam pangan fungsional adalah senyawa-senyawa alami di luar zat gizi dasar yang terkandung dalam pangan yang bersangkutan, yaitu: (1) serat pangan (deitary fiber), (2) Oligosakarida, (3) gula alkohol (polyol), (4) asam lemak tidak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acids = PUFA), (5) peptida dan protei tertentu, (6) glikosida dan isoprenoid, (7) polifenol dan isoflavon, (8) kolin dan lesitin, (9) bakteri asam laktat, (10) phytosterol, dan (11) vitamin dan mineral tertentu.
Meskipun mengandung senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan, pangan fungsional tidak berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk yang berasal dari senyawa alami (Badan POM, 2001). Pangan fungsional dibedakan dari suplemen makanan dan obat berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Kalau obat fungsinya terhadap penyakit bersifat kuratif, maka pangan fungsional hanya bersifat membantu pencegahan suatu penyakit.
Persyaratan pangan fungsional
Jepang merupakan negara yang paling tegas dalam memberi batasan mengenai pangan fungsional, paling maju dalam perkembangan industrinya. Para ilmuwan Jepang menekankan pada tiga fungsi dasar pangan fungsional, yaitu: (1) sensory (warna dan penampilannya yang menarik dan cita rasanya yang enak), (2) nutritional (bernilai gizi tinggi), dan (3) physiological (memberikan pengaruh fisiologis yang menguntungkan bagi tubuh).
Beberapa fungsi fisiologis yang diharapkan dari pangan fungsional antara lain adalah: (1) pencegahan dari timbulnya penyakit, (2) meningkatnya daya tahan tubuh, (3) regulasi kondisi ritme fisik tubuh, (4) memperlambat proses penuaan, dan (5) menyehatkan kembali (recovery).
Menurut para ilmuwan Jepang, beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh suatu produk agar dapat dikatakan sebagai pangan fungsional adalah: (1) Harus merupakan produk pangan (bukan berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk) yang berasal dari bahan (ingredien) alami, (2) Dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau menu sehari-hari, (3) Mempunyai fungsi tertentu pada saat dicerna, serta dapat memberikan peran dalam proses tubuh tertentu, seperti: memperkuat mekanisme pertahanan tubuh, mencegah penyakit tertentu, membantu mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit tertentu, menjaga kondisi fisik dan mental, serta memperlambat proses penuaan.
Dari konsep yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan, jelaslah bahwa pangan fungsional tidak sama dengan food supplement atau obat. Pangan fungsional dapat dikonsumsi tanpa dosis tertentu, dapat dinikmati sebagaimana makanan pada umumnya, serta lezat dan bergizi.
Peranan dari makanan fungsional bagi tubuh semata-mata bertumpu kepada komponen gizi dan non gizi yang terkandung di dalamnya. Komponen-komponen tersebut umumnya berupa komponen aktif yang keberadaannya dalam makanan bisa terjadi secara alami, akibat penambahan dari luar, atau karena proses pengolahan (akibat reaksi-reaksi kimia tertentu atau aktivitas mikroorganisme).
Contoh-contoh komponen aktif yang terdapat secara alami dalam bahan pangan adalah: (1) nerodiol dan linalool pada teh hijau yang berperan untuk mencegah karies gigi dan mencegah kanker; (2) komponen sulfur pada bawang-bawangan yang berfungsi untuk mencegah agregasi platelet dan menurunkan kadar kolesterol; (3) kurkumin pada rimpang kunyit dan l-tumeron pada rimpang temulawak yang berkhasiat untuk pengobatan berbagai penyakit; (4) daidzein dan genestein pada tempe yang berperan untuk menurunkan kolesterol dan mencegah kanker; (5) serat pangan (dietary fiber) dari berbagai sayuran, buah-buahan, serealia, dan kacang-kacangan yang berperan untuk pencegahan timbulnya berbagai penyakit yang berkaitan dengan proses pencernaan; serta (6) berbagai komponen volatil yang terdapat pada bunga melati (jasmin), chrysant dan chamomile yang aromanya sering digunakan sebagai aromaterapi.
Contoh komponen zat gizi yang sering ditambahkan ke dalam bahan makanan adalah: (1) vitamin A, vitamin E, beta-karoten, flavonoid, selenium, dan seng (zinc) yang telah diketahui peranannya sebagai antioksidan untuk mengatasi serangan radikal bebas yang menjurus kepada timbulnya berbagai penyakit kanker; (2) asam lemak omega-3 dari minyak ikan laut untuk menurunkan kolesterol dan meningkatkan kecerdasan otak, terutama pada bayi dan anak balita; (3) kalsium untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi, mencegah osteoporosis (kerapuhan tulang) dan tekanan darah tinggi; (4) asam folat untuk mencegah anemia dan kerusakan syarat; (5) zat besi untuk mencegah anemia gizi; (6) iodium untuk mencegah gondok dan kretinisme (kekerdilan); (7) oligosakarida untuk membantu pertumbuhan mikroflora yang dibutuhkan usus (bifido bacteria).
Contoh komponen aktif yang keberadaannya dalam bahan pangan akibat proses pengolahan adalah zat-zat tertentu pada produk fermentasi susu (yoghurt, yakult, kefir), fermentasi kedelai, dan lain-lain.
Pangan tradisional yang fungsional
Pangan fungsional dapat berupa makanan dan minuman yang berasal dari hewani atau nabati. Walaupun konsep pangan fungsional baru populer beberapa tahun belakangan ini, tetapi sesungguhnya banyak jenis makanan tradisional yang memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai pangan fungsional.
Contoh pangan tradisional Indonesia yang memenuhi persyaratan pangan fungsional adalah: minuman beras kencur, temulawak, kunyit-asam, serbat, dadih (fermentasi susu khas Sumatera Barat), dali (fermentasi susu kerbau khas Sumatera Utara), sekoteng atau bandrek, tempe, tape, jamu, dan lain-lain. Contoh makanan tradisional mancanegara yang dapat dikategorikan sebagai makanan fungsional adalah: yoghurt, kefir, koumiss, dan lain-lain.
Beberapa contoh pangan fungsional modern adalah: (1) pangan tanpa lemak, rendah kolesterol dan rendah trigliserida; (2) breakfast cereals dan biskuit yang diperkaya serat pangan; (3) mi instan yang diperkaya dengan berbagai vitamin dan mineral; (4) permen yang mengandung zat besi, vitamin, dan fruktooligosakarida; (5) pasta yang diperkaya dietary fiber; (6) sosis yang diperkaya dengan oligosakarida, serat atau kalsium kulit telur; (7) minuman yang mengandung suplemen dietary fiber, mineral dan vitamin; (8) cola rendah kalori dan cola tanpa kafein; (9) sport drink yang diperkaya protein; (1) minuman isotonic dengan keseimbangan mineral; (11) minuman untuk pencernaan; (12) minuman pemulih energi secara kilat; (13) teh yang diperkaya dengan kalsium, dan lain-lain.
Silakan dikonsumsi
Sesuai dengan definisinya bahwa pangan fungsional dapat dikonsumsi tanpa dosis tertentu, maka melibatkan pangan fungsional dalam menu sehari-hari adalah tindakan yang sangat baik dan tepat dari segi gizi. Konsumsi pangan fungsional dapat dilakukan oleh semua kelompok umur (kecuali bayi).
Diversifikasi konsumsi pangan fungsional perlu diperkenalkan sedini mungkin sejak masa kanak-kanak, agar setelah dewasa memperoleh manfaat dan khasiat yang optimal, yaitu sehat dan bugar, produktif, mandiri, serta berumur panjang.
Di masa mendatang kehadiran pangan fungsional atau yang diklaim sebagai pangan fungsional akan semakin semarak di Tanah Air kita ini. Sebagai konsumen yang bijak dan sadar akan pentingnya gizi bagi kesehatan, maka selayaknya kita memperhitungkan betul manfaat dari setiap rupiah yang kita keluarkan untuk membeli bahan makanan tersebut.
Kita harus terhindar dari perbuatan membeli makanan yang semata-mata didasari atas pertimbangan selera dan prestise, tetapi tidak berarti bagi pencapaian tingkat kesehatan yang optimal. Membaca label merupakan tindakan yang harus kita lakukan sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk.
Adapun keterangan yang wajib dicantumkan pada label adalah: nama pangan, berat/isi bersih, nama dan alamat perusahaan, daftar bahan yang digunakan, nomor pendaftaran, waktu kedaluwarsa, kode produksi, informasi nilai gizi, keterangan tentang peruntukan (jika ada), cara penggunaan (jika ada), keterangan lain jika perlu diketahui (termasuk peringatan), dan penyimpanan. (Sumber mulia-sejahtera.com, ilustrasi pantonanews.com)

Kehidupan Setelah Kematian

images 1Setiap jiwa niscaya akan merasakan sebuah fase bernama kematian. Tak ada yang mengingkari hal itu termasuk kalangan atheis sekalipun. Namun yang namanya keimanan tak mandeg sebatas ini saja. Telah menjadi perkara mendasar dalam Islam, yakni keyakinan adanya alam setelah kematian, yakni alam barzakh, atau lazim disebut alam kubur.
 Kematian, dalam pandangan Islam, bukanlah ujung dari segala kehidupan makhluk. Syariat telah demikian gamblang menerangkan bahwasanya masih ada alam lain (alam barzakh kemudian alam akhirat) yang akan dilalui manusia pascakematian. Maka, membincangkan alam kubur, jelas erat kaitannya dengan akidah. Karena alam kubur adalah bagian dari hal ghaib yang tidak semua orang (termasuk sebagian umat Islam) mau meyakininya.
 Nyatanya, masih saja ada yang berlogika untuk mementahkan perkara akidah ini. Seakan-akan segala hal bisa dilihat dari kacamata logika mereka. Sebagian lagi menolak dengan merangkum beragam syubhat (keraguan) yang kesudahannya adalah menolak hadits-hadits yang menerangkan tentang berbagai peristiwa di alam kubur.
Melogikakan alam kubur dan beragam peristiwa yang terjadi di dalamnya tentu saja hanya akan menimbulkan erosi akidah, yang ujung-ujungnya kita bisa meragukan bahkan menghampakan eksistensi Allah  sebagai Dzat yang Mahakuasa atas segala sesuatu. 
Islam telah menggarisbawahi dengan tebal bahwa keimanan bukanlah atas dasar selera manusia sehingga ia bisa bebas memilih sekehendak hati. Di mana ia hanya mau menerima hal-hal yang masuk akal dan menolak hal-hal yang bertentangan dengan akal. Ia hanya mengimani hal-hal yang bisa diendus oleh pancaindra sementara yang ghaib justru dia kufuri. Demikian juga dia hanya mau mempraktikkan syariat yang dianggapnya ringan sementara syariat yang (dalam anggapannya) berat –meski hukumnya wajib– justru ia tinggalkan. 
Hakikat keimanan dalam Islam, adalah pembenaran secara total terhadap segala kabar yang diberitakan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang kemudian mewujud dalam praktik anggota tubuh, berupa ucapan maupun perbuatan.
Sehingga bukan keimanan namanya jika ber-Islam hanya atas dasar eling (ingat) atau yang di kalangan sufi diistilahkan dengan tahap ma’rifat. Di samping itu, jika setiap makhluk bisa menginderai hal-hal ghaib niscaya keimanan itu menjadi tiada harganya. Karena selain perkara itu bukan lagi merupakan hal ghaib, maka menjadi tidak terbedakan lagi antara Mukmin dan orang kafir. Karena semua orang dengan mudah akan mengimani itu semua.
Bagaimanapun, dunia dalam pandangan Islam, hanyalah panggung ujian yang akan dinilai nantinya. Tidak mungkin ada dua orang, yang satu jahat sementara yang lain shalih, tatkala mati kemudian sama-sama selesai begitu saja. Tak ada balasan kejelekan atau hukuman dan tak ada balasan kebaikan atau pahala.
Tegasnya, tak ada tawar-menawar dalam setiap perkara yang memang telah digariskan syariat. Setiap Muslim seyogianya terus menyempurnakan keimanan yang telah terpatri dalam sanubarinya, salah satunya dengan mengimani adanya kehidupan setelah kematian.
 (Sumber asysyariah.com, sumber foto pohonkamboja.com)
{jacomment on}

Syirik di Tengah Kita, Mulai dari Eyang Subur sampai Ritual UN

 Oleh: Adam Cholil, Pengajar di HSG Khoiru Ummah, Gresik
 syirikkkkPerilaku syirik di tengah masyarakat kita sudah menjadi sebuah kebiasaan. Bahkan anak-anak sekolah sudah diajari berbuat syirik. Menjelang ujian nasional (UN) banyak cara dilakukan agar ujian diberi kelancaran. Mulai doa bersama sampai ritual syirik. Belum lama ini kita juga digemparkan dengan berita Eyang Subur yang telah banyak merugikan orang terutama kalangan selebriti dengan praktik syiriknya. Mereka, para selebriti itu, yang katanya modern ternyata masih suka mendatangi dukun. Dukun-dukun itu seolah-olah menawarkan solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi manusia, mulai dari ekonomi, karier, lulus ujian, sampai rumah tangga. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini banyak orang yang waswas dan bingung dalam menjalani kehidupan.
Hal ini tidak terlepas dari dampak krisis ekonomi global yang tengah menggejala. Maka tawaran para penjaja kemusyrikan itu tak pelak menjadi semacam oase di tengah gurun pasir. Tidak sedikit masyarakat yang tengah megap-megap dan kelimpungan menghadapi kondisi hidup yang serba-sulit ini kemudian tergiur tawaran yang menjanjikan itu. Dan, herannya yang mencoba peruntungan kepada paranormal itu bukan hanya datang dari kalangan awam tetapi juga kalangan berilmu.
Pertanyaannya sekarang adalah, benarkah para tukang ramal dan dukun tersebut dapat memberikan jalan keluar yang baik dari persoalan-persoalan yang tengah menimpa manusia sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan? Bagi orang beriman tentu kita harus meyakini bahwa tidak ada yang bisa memberikan jalan keluar yang baik kecuali Allah swt. Dia saja lah yang bisa menyelesaikan masalah-masalah yang menimpa manusia. Allah swt berfirman : 
Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. Ath Thalaq, [65]:2)
 Dan, orang beriman juga harus meyakini bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat atau menolak mafsadat (bencana) terhadap seseorang kecuali jika Allah menghendaki. Dalam hadis riwayat Imam At-Tirmidzi dan dicatat dalam kitab “Az-Zawaajir”, Rasulullah saw pernah berkata kepada Ibnu Abas: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya jika seluruh manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan jika seluruh manusia berkumpul untuk mencelakakanmu maka mereka tidak akan bisa mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan kepadaMu.”
Bagaimana dengan seorang paranormal? Jika berkumpulnya seluruh manusia untuk memberikan manfaat atau menghindarkan bencana yang akan menimpa seseorang saja tidak bisa, apalagi hanya seorang paranormal yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Logika ini sudah cukup bagi kita untuk tidak percaya 100% kepada para pendusta tersebut.
 Orang-orang yang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa memberi kehidupan kepada mereka dan bisa membebaskan mereka dari persoalan maka itu adalah musyrik (menyekutukan Allah). Dalam kitab “Majmu’ Fatawa”, Ibnu Taymiyah berkata: “Siapa saja yang meyakini bahwa berhala itu yang menurunkan hujan dan memberi rezeki maka dia telah menyekutukan Allah (musyrik).” Sedangkan perbuatan menyekutukan Allah merupakan dosa yang amat besar yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah swt.
 Mereka adalah Pendusta
Para dukun dan tukang ramal sesungguhnya mereka tidak pernah bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada seseorang. Mereka juga tidak bisa memberikan solusi yang benar terhadap orang yang meminta jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya. Sesungguhnya mereka itu adalah para pendusta dan penipu. Apa yang disampaikannya hanya karangan semata. Kalaupun suatu ketika ada satu dari ramalan mereka yang benar dan tepat maka itu hanya kebetulan saja. Karena ada seratus lebih ramalan mereka yang pasti keliru.
 Hal tersebut telah disampaikan Rasulullah saw kepada para sahabat ketika mereka mengatakan; Wahai Rasulullah, mereka (para dukun) menyampaikan kepada kami sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, dan itu terbukti! Beliau saw bersabda; “Perkataan tersebut memang benar, karena itu hasil pencurian bangsa jin yang disampaikan kepada para sekutunya (dukun dan peramal), tetapi kemudian mereka mencampurnya dengan 100 kebohongan yang mereka ciptakan sendiri.” (HR. Mutafaq ‘alaih)
Kita pernah mendengar ramalan beberapa paranormal yang sering tampil di media massa yang mengatakan bahwa artis A kariernya di tahun yang akan datang akan menurun sedangkan artis B akan menanjak. Ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Tapi banyak masyarakat yang tidak memperhatikan fakta tersebut. Banyak di antara mereka yang tetap saja mempercayainya. Ada juga yang katanya sekadar iseng. Padahal bertanya atau mendatangi dukun dan tukang ramal baik percaya ataupun tidak (sekadar iseng) tetap saja dilarang di dalam Islam. Termasuk yang marak saat ini adalah bertanya kepada paranormal melalui pesan singkat (sms), itu tidak ada bedanya dengan bertanya atau mendatanginya secara langsung. Rasulullah saw. bersabda:
 مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَمَنْ أَتَاهُ غَيْرَ مُصَدِّقٍ لَهُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةً أَرْبَعِينَ لَيْلَةً *
Barang siapa mendatangi dukun kemudian ia membenarkan apa yang dikatakannya maka ia telah melepaskan diri dari apa yang telah Allah turunkan kepada Muhammad saw (Al- Qur’an). Dan barang siapa yang mendatangi dukun tetapi ia tidak membenarkan apa yang dikatakannya maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam. (HR. Thabrani)
Perbuatan Syirik Merugikan Pelakunya
Perbuatan syirik yang di antaranya adalah memercayai dukun dan tukang ramal (paranormal) merupakan tindakan yang sangat merugikan diri sendiri baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia dia rugi karena telah menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, maupun biaya dengan sia-sia. Tidak berguna dan rugi karena telah memercayai suatu kebohongan dan tidak bermanfaat. Sementara di akhirat dia juga akan mendapatkan kerugian yang amat besar berupa hukuman akibat perbuatannya yang telah melanggar larangan Allah swt., Tuhan yang menciptakan dan memberinya kehidupan. Di antara hukuman yang akan mereka terima adalah:
Pertama; Tidak akan diampuni dosanya. Karena dosa syirik termasuk dosa yang sangat besar. Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa,[4]:116)
Kedua; Diharamkan baginya masuk Surga dan akan ditempatkan di Neraka. Allah swt. berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ*
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. (QS. Al Maidah,[5]:72)
 Ketiga; Tidak akan mendapat syafa’at Rasulullah saw. Diriwayatkan dari Abu Dzar ra. ia berkata, “Suatu malam Rasulullah saw shalat dan membaca sebuah ayat. Beliau membaca ayat tersebut dalam ruku’ dan sujudnya sampai tiba waktu subuh. Ayat tersebut yaitu:  
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ *
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah, [5]:118)
Ketika tiba waktu subuh aku berkata, “Wahai Rasulullah, tidak henti-hentinya engkau membaca ayat ini sampai datang waktu subuh, engkau membaca ayat tersebut dalam ruku’ dan sujud?”Beliau bersabda; “Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku yang Maha Mulia lagi Maha Agung, agar Dia memberi syafaat kepada umatku, kemudian Dia mengabulkannya. Insya Allah syafaat tersebut akan didapatkan oleh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Ahmad, seperti dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya)
 Penutup
Jadi, apa gunanya kita melakukan sesuatu yang sebenarnya justru akan merugikan dan membahayakan kita baik di dunia maupun di akhirat. Jika kita berpikir menggunakan akal sehat, maka kita tentu lebih memilih sesuatu yang dapat menguntungkan dan membawa manfaat bagi kita baik di dunia dan akhirat. Hal itu hanya akan kita dapati dengan beriman kepada Allah swt., tidak menyekutukannya, dan yakin bahwa hanya Dia lah yang memberikan kehidupan dan dapat menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi. Doa kita yang dipanjatkan setiap hari adalah; “Robbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqinaa ‘adzaaban naar: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka.” Doa ini sudah cukup untuk menyelesaikan segala masalah yang kita hadapi. Ini yang diajarkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Masihkah kita akan mencari yang lain selain Allah? Semoga tidak! Wallahu waliyyut taufiq wailaihi uniib.   
(Sumber eramuslim.com)

Jumat, 25 Oktober 2013

Tips Mudah Memilih Baju Anak

baju-anakBaju anak akan menjadi salah satu hal yang kini menambah daftar belanja anda. mengingat pakaian adalah salah satu kebutuhan utama setiap orang, maka anak andapun juga akan memerlukan pakaian untuk dikenakannya baik untuk sehari-hari maupun untuk bepergian dan menghadiri acara-acara khusus. Sebagai orang tua, pasatinya anda tidak ingin hanya anda saja yang terlihat modis, namun pastinya anda juga menginginkan anak anda untuk dapat tampil menarik di depan banyak orang. Maka dari itu, anda perlu memilihkan pakaian yang tepat untuk anak-anak anda. Memang tidak mudah untuk memilih pakaian untuk anak anda terutama bagi mereka yang telah mampu menentukan kemauannya sendiri. Dengan begitu, anda perlu mengetahui beberapa tips dan trik untuk dapat berbelanja pakaian anak anda agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan lebih mudah dan menyenangkan.

Perhatikan selera anak

Ada banyak cara yang dapat anda lakukan dalam agenda anda membelikan baju untuk anak anda yang beberapa di antaranya akan dibahas dalam tips memilih baju anak berikut. Sebelum anda memutuskan untuk membeli baju untuk anak anda, anda harus berpedoman pada satu prinsip bahwa anak anda bukanlah anda. Anak anda memiliki kepribadian dan selera yang sedikit banyak berbeda dengan anda jadi anda tidak dapat memastikan atau memaksakan bahwa apa yang anda suka pasti juga disukai oleh anak anda. lebih spesifik lagi bahwa anak anda belum tentu suka dengan baju atau pakaian yang anda pilihkan berdasarkan selera anda. maka dari itu, yang pertama-tama perlu anda lakukan dalam membelikan baju untuk anak anda adalah mengajak anak anda berbelanja untuk ikut serta memilih baju yang diinginkannya. Dengan begitu, baju yang dipilih oleh anak anda sudah pasti disukai olehnya dan pasti akan lebih sering dikenakan dari pada baju-baju  yang anda belikan namun tidak sesuai dengan seleranya.
Biarkan anak anda memilih baju yang mereka sukai dan peran anda sebagai orang tua di sini adalah mengarahkannya ketika pilihan anak anda tidak sesuai dengan usianya, misalnya. Jika anak anda telah menyukai apa yang dipilihnya, maka secara otomatis dia akan nyaman dan percaya diri dalam mengenakan pakaiannya dan ini adalah modal utama dalam berpenampilan bagi siapa saja, termasuk anak anda. Sehingga anak andapun dapat senantiasa terlihat menarik di mata banyak orang.Jika anda keadaan tidak memungkinkan bagi anda untuk mengajak anak anda berbelanja, maka anda cukup menanyakan seleranya. Setidaknya, pilihan anda sudah mendekati kemauannya dan baju anak yang anda belikan pun tidak hanya akan menumpuk di lemari karena tidak pernah dipakai.

Pilih bahan yang nyaman

Kemudian, yang perlu anda perhatikan berikutnya adalah karakteristik anak yang aktif dan lincah serta selalu ingin bergerak.Dengan begitu, baju yang anda harus pilihkan untuk anak anda haruslah lebih banyak pada baju dengan tema santai dan model yang sederhana agar anak lebih nyaman mengenakannya saat bermain dan beraktifitas.Selain itu, anda juga perlu memilih baju dengan bahan yang nyaman dan menyerap keringat dan tidak kasar agar anak anda selalu dapat merasa nyaman saat memakainya dan terhindar dari resiko iritasi. Intinya, dalam memilihkan baju anak untuk buah hati anda, jangan sekali-kali memaksakan selera anda untuk dikenakan oleh anak anda karena jika memang anak anda tidak menyukai selera tersebut, sama saja anda hanya membuang-buang uang anda untuk membeli baju yang tidak akan dikenakan oleh anak anda.

Mencermati Perisa Daging

Perisa (flavour) daging termasuk dalam kelompok process flavour yaitu perisa yang utamanya dibuat dengan reaksi kimia dari bahan-bahan prekusornya. Salah satu prekusor yang dapat digunakan adalah lemak, baik itu lemak ayam, sapi atau lemak babi. Untuk membuat perisa daging ayam sering digunakan lemak ayam, khususnya untuk memberi flavor daging ayam rebus yang aromanya banyak ditentukan oleh komponen-komponen yang berasal dari hasil degradasi lemak.
Di samping lemak, ada pula perisa yang dibuat dengan menggunakan ekstrak dagingnya sendiri, yang dapat dibuat dengan memanfaatkan daging sisa hasil pengolahan daging di mana daging tersebut biasanya dihidrolisa dulu agar menghasilkan rasa daging yang sesuai.
Dari segi kehalalan, seperti dijelaskan pada cara pembuatanya di atas, perisa harus dicermati karena dapat mengandung lemak hewani, bahkan lemak babi dan ekstrak daging. Seperti diketahui sebagian perisa adalah produk impor di mana bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatannya diperolah dari negara-negara maju.
Di negara maju banyak lemak dan sisa-sisa daging babi yang digunakan untuk pembuatan perisa. Di samping itu, kebanyakan daging dan lemak sapi, kambing atau ayam diperoleh dari hewan yang kebanyakan tidak disembelih secara Islami. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan yang teliti terhadap perisa daging ini karena kemungkinan tidak halalnya tinggi.
Masalahnya, perisa daging dalam label hanya ditulis perisa daging seperti perisa daging ayam, daging sapi, bakso, dll tanpa diketahui bahan pembuatnya apa. Dengan demikian, untuk menentukan kehalalan perisa daging tidak dapat dilakukan hanya dengan membaca komposisi pada label saja, harus ditelusuri bagaimana perisa itu dibuat, sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Apabila dari hasil pemeriksaan perisa daging terbuat dari bahan-bahan yang halal maka halal lah dia dan sebaliknya.
(Sumber: Jurnal Halal, sumber foto: halalguide.info)

Kerupuk Kulit, Halalkah?


Kerupuk kulit memang sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari lidah konsumen orang Indonesia.Penggemarnya sangat banyak, yang berasal dari berbagai kalangan. Kerupuk yang gurih dan renyah inipun cocok dipasangkan dengan makanan apa saja. Ia bisa menemani soto, bakso, nasi padang, bubur ayam, dan berbagai jenis masakan lainnya. Bahkan dimakan sendirian pun enak juga.
Konsumsi kerupuk kulit di Indonesia sangatlah besar. Anda akan dengan mudah mendapatkannya di berbagai warung dan restoran. Memang secara statistik belum didapatkan angka pasti mengenai jumlah kuantitatif konsumsi kerupuk kulit di Indonesia. Tetapi melihat animo masyarakat yang begitu besar dan keberadaannya yang tersebar luas, kita pantas menduga bahwa konsumsi kerupuk ini sangat besar. 
Besarnya permintaan kerupuk kulit ini tentunya mendatangkan hikmah bagi industri kecil yang bergerak di bidang tersebut. Tetapi dari hasil pantauan kami terhadap beberapa industri kecil kerupuk kulit di Sidoarjo dan Jember, Jawa Timur, justru menunjukkan fakta yang sebaliknya.
Beberapa industri yang skalanya masih industri rumah tangga (IRT) itu mengeluh tidak dapat berproduksi secara kontinyu. Beberapa IRT tersebut mengaku sulit mendapatkan bahan baku kulit yang dibutuhkannya. Kalaupun ada harganya sudah melambung sangat tinggi, karena minimnya pasokan dan banyaknya permintaan. Kesulitan bahan baku ini bahkan telah memaksa beberapa penghasil kerupuk kulit di Jember terpaksa harus menghentikan produksinya.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, produksi peternakan sapi lokal kita memang mengalami stagnasi. Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi, maka daging impor pun didatangkan dari negara-negara Australia, Selandia Baru, dan Amerika. Daging tersebut didatangkan dalam bentuk daging beku tanpa tulang dan tanpa kulit. Sedangkan kulit lokal yang bagus, selain untuk keperluan pangan, juga digunakan untuk kerajinan kulit, seperti sepatu, tas, dan jaket. Oleh karena itu wajar jika kulit untuk keperluan kerupuk menjadi langka dan sulit didapatkan.
Lalu pertanyaannya, kerupuk kulit yang beredar dan banyak dikonsumsi masyarakat itu berasal dari mana? Sebagaimana angka konsumsi, data produksi kerupuk kulit ini juga sulit didapatkan. Apalagi kebanyakan industri yang membuatnya adalah industri kecil atau industri rumah tangga yang sulit dipantau keberadaannya. Dari hasil penelusuran informasi kepada para pengusaha kerupuk kulit didapatkan fakta bahwa beberapa industri kerupuk kulit tersebut menggunakan bahan baku kulit impor.
Kulit sapi impor itu konon didatangkan dari Korea dan Cina, meskipun data secara pastinya belum didapatkan. Untuk mendapatkan bahan baku tersebut, para pengusaha kerupuk tidak mampu mengimpor sendiri. Mereka mendapatkan dari para pemasok dan pedagang besar yang mampu mengimpor secara langsung dari luar negeri. Perdagangan kulit impor ini terjadi secara sembunyi-sembunyi, tidak bisa dilakukan di pasar-pasar umum. Bahkan pengusaha kerupuk yang tidak tahu informasi ini juga sulit mendapatkan bahan baku tersebut.
Jika benar kulit yang dipakai industri kerupuk tersebut didapatkan dari impor, apalagi dari negara-negara non-Muslim, akan mendatangkan masalah dan pertanyaan besar, apakah kulit tersebut dijamin kehalalannya? Dari hewan yang menghasilkan kulitnya, kita masih bisa mempertanyakan, apakah hewan tersebut benar-benar sapi ataukah babi? Sebab kulit sapi dan kulit babi ketika diproses menjadi kerupuk akan menghasilkan jenis kerupuk yang mirip. Bagi orang awam akan sulit membedakan antara kerupuk kulit sapi ataukah kulit babi.
Kalaupun seandainya memang benar kulit sapi, kita masih akan bertanya, apakah sapi tersebut disembelih secara halal ataukah tidak? Jika berasal dari negara seperti Korea dan Cina, akan sulit mendapatkan sapi yang disembelih secara Islam.
Kalau demikian, bagaimana status kehalalan kerupuk kulit yang setiap hari disajikan di warung-warung dan kita makan? Memang sulit menentukan status kehalalannya. Secara fisik menggunakan pandangan mata biasa, akan sulit menentukan kehalalan kerupuk kulit tersebut. Apalagi jika sudah disajikan secara rapi dan dikemas di dalam plastik.
Namun sekedar tip kecil, Anda sebaiknya waspada terhadap kerupuk kulit yang warnanya lebih putih, penampakannya lebih halus, lebih empuk dan lubang udaranya kecil-kecil. Lebih dari itu memang sebaiknya kita waspada terhadap makanan yang gurih dan renyah ini. Tim LPPOM MUI.
(Sumber: Republika, sumber foto: danwajg.multiply.com)

Tiada yang Tersia-sia

Sebuah pengalaman sederhana, tapi membekas dalam ingatan saya. Ketika di satu sore, matahari yang merindukan malam, perlahan tapi pasti menuju ufuk barat cakrawala. Jejaknya membiaskan kemilau jingga di langit Bogor yang cerah tak berhujan kala itu. Sepanjang koridor Jembatan Merah, tapak-tapak kaki manusia berkejaran melindas aspal jalanan yang masih menyisakan panas tadi siang. Walaupun berlainan arah, tapi semuanya menuju tujuan yang sama, "Home sweet home". 
Raut-raut wajah yang tadi pagi keluar dengan semringah, cerah menghadapi hari, sekarang membawa pulang kelelahan yang terpancar dari butir keringat dan kernyit kekelahan di dahinya. Sebagian otak kecil mereka sudah lebih dulu menyerbu rumah dengan bayangan kesegaran mandi air hangat yang sudah disiapkan orang terkasih, disambut buah hati yang baru bisa menjejakkan dua tiga langkah kecilnya ke bumi, kemudian melahap hidangan di meja makan, walaupun dengan menu sederhana tapi terasa nikmat oleh racikan tangan penuh cinta.
Bias jingga masih tersisa ketika gerbong-gerbong kereta rel listrik mulai merayap meninggalkan peron Stasiun Bogor. Kereta tujuan Jakarta di sore hari tidak terlalu padat seperti kereta yang menuju Bogor. Kota Metropolitan Jakarta telah menarik berjuta "semut pekerja" dari pinggiran untuk mengais rezeki di kota. Jakarta yang begitu padat, sehingga alternatif hunian di pinggir kota menjadi pilihan tak terelakkan bagi mereka. Konsekwensinya, mereka harus rela berjubel di dalam gerbong-gerbong trasnportasi murah setiap paginya untuk menuju tempat kerja, dan masih harus terbiasa menghirup gas CO2 napas manusia lain di dalam gerbong sesak di saat pulang kerja. Itulah hidup ...
Beruntung saya bisa mendapatkan tempat duduk yang enak ketika masuk ke gerbong ini. Saya katakan "enak" karena posisinya di samping pintu kereta, sehingga saya bisa leluasa menumpahkan pandangan ke luar kereta yang sedang berjalan. Menyisir rimbun pepohonan, ladang, sawah, dan perkampungan yang dilewatinya. Posisi yang menghadap ke barat, menampilkan kanvas Mahakarya perpaduan jingga kekuningan langit dengan hijau dedaunan. Sang mentari laksana perawan pingitan yang sesekali mengintip malu dari sela awan. Ditingkahi sepoi angin menyapu wajah yang letih seharian berkutat dengan gambar-gambar desain dan denah tapak di layar monitor komputer, mengejar deadline.
 Sejenak bola mata saya terhenti pada sesosok pemuda tanggung yang duduk di depan saya, di sisi gerbong yang berlawanan. Usianya mungkin 23 tahunan. Dengan kemeja flannel kotak-kotak biru putih, sandal gunung, tas ransel yang sepertinya terisi beberapa buku (diktat mungkin), bisa ditebak bahwa pemuda itu adalah mahasiswa. Mungkin dia suka naik gunung, tapi bisa jadi dia hanya suka berpakaian seperti itu, untuk menimbulkan kesan cowok macho tapi cool layaknya petualang sejati. Postur tinggi kurus, dengan rambut sedikit lebih panjang dari potongan pria umumnya, dan kulit yang kecoklatan memang tidak terlalu menarik untuk jadi cover boy. 
 Tapi ada yang mengusik mata saya untuk tidak melepas pandangan darinya. bibirnya ...Bibir tipis yang ikut mengukir wajah tenang itu bergerak-gerak sedari tadi. Entah apa yang dia ucapkan, lamat-lamat, tapi memancarkan ketenangan yang dalam di raut wajahnya. Gemuruh kereta dan teriakan penjual asongan yang ditambah riuh suara penumpang, jelas tidak menyisakan frekuensi bagi gelombang suara pemuda itu untuk sampai ke telinga saya. Sementara di langit, matahari mulai mendekati cakrawala. Kereta berhenti sejenak di Stasiun Bojonggede. Seorang ibu setengah baya yang baru naik, segera mengambil posisi berdiri di depan pemuda itu. 
 Menyadari itu, sang pemuda segera bangkit untuk menyediakan tempat duduknya bagi si ibu. "Gentleman juga", dalam hati saya memberi penilaian singkat. Tidak jarang, bila kereta sedang penuh, laki-laki yang bertubuh sehat dan kuat, tidak mau merelakan tempat duduknya bagi perempuan tua, atau wanita hamil. Mungkin kehidupan kota membuat orang banyak berpikir "seenaknya gue". Kelelahan menghadapi persaingan hidup sikut-menyikut, menguras habis rasa dan budaya tolong-menolong warisan nenek moyang bangsa. Rasa individualis yang egois semakin mewarnai beringas kota metropolis ini. Dan kereta terus melaju menuju Jakarta.
 Ternyata ibu tadi tidak lama mengikuti perjalanan kereta senja itu. Di Stasiun Citayam -satu stasiun setelah Bojonggede- dia turun, dan pemuda itu kembali menikmati tempat duduknya semula. Jari-jarinya mulai bermain. Saya perhatikan, jari-jemari kekar itu berubah fungsi menjadi alat hitung. Oh, dia sedang menghitung-hitung ucapannya. Lincah jari-jemari itu teratur mengikuti gerak bibirnya yang berulang setiap kali jarinya bergerak. Riuh suasana sekelilingnya tidak membuat ia mengalihkan konsentrasi dari aktivitas yang dia bangun sejak kereta beranjak dari Stasiun Bogor.
 Kali ini matahari sudah sempurna bersembunyi di balik cakrawala, untuk esok kembali melakukan perjalanannya menemani manusia yang menyebar di setiap sudut bumi Allah mencari rezekinya masing-masing. Suara adzan maghrib tidak terdengar di kereta yang sedang melaju membelah remang senja waktu itu. Di depan saya, pemuda itu kini menunduk diam. Tertidurkah? Tidak. Ternyata ia melafalkan sebait doa. Saya tahu itu, karena sesaat sebelum kereta berhenti di peron Stasiun Depok Baru, dia menyapukan kedua tangannya ke muka. Ternyata di sinilah tujuannya. Dia beranjak turun membawa secercah damai yang terpancar dari wajah kurusnya. Langkah pastinya menapaki peron, kepastian akan jejak-jejak waktu yang terlewatkan tanpa suatu kesia-siaan.
 Kepastian untuk melangkahi hari esok yang penuh misteri, melakukan yang terbaik yang mampu dilakukan. Kepastian bahwa Sang Pencipta senantiasa mengamati langkah kita, dan tidak akan membiarkan kita terjatuh tanpa pertolongan dariNya. Setiap detik waktu yang terlewat tidak akan pernah kembali. Beruntung manusia yang bijak memanfaatkannya untuk sesuatu yang berguna bagi kehidupan saat ini maupun nanti. Karena kebaikan sekecil apa pun pasti ada balasannya kelak. (Keusuma)
 (Sumber:eramuslim.com,sumber foto: ayahzaid.blogspot.com)

Tidak Baik Bagimu, Ayahku…

neno
Yaqthan Madinatur Riyadh menjalani hidup dengan hura-hura tanpa makna, hanya sedikit sekali mengenal Allah. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah masuk masjid, bahkan tidak pernah bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala walau sekali. Ternyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak membukakan pintu taubat di hatinya melalui putri mungilnya.
 Ia bercerita, “Aku biasa begadang bersama teman-teman sampai pagi. Sepanjang malam kuhabiskan untuk hura-hura dan bermain. Kutinggalkan istriku yang malang dihinggapi kesendirian, penderitaan, dan dera siksa. Hanya Allah-lah Yang Mahatahu. Istriku yang saleh sudah tidak bisa berbuat apa-apa kepadaku. Pernah ia berusaha menasihati dan menegurku, tetapi sia-sia. 
Pada suatu malam, aku pulang dari begadang. Jarum jam menunjukkan angka tiga pagi. Melihat istri dan anakku yang tidur lelap, aku langsung menuju kamar sebelah untuk menghabiskan sisa malam dengan menonton video mesum. Padahal, pada jam-jam seperti itu Allah Subhanahu wa Ta’ala turun dan berfirman, ‘Adakah yang berdoa supaya kuistijabah? Adakah yang beristighfar agar kuampuni? Dan, adakah yang meminta sesuatu supaya kupenuhi?’
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Putri mungilku yang belum genap lima tahun memandangiku heran dan hina. Sebaris kalimat meluncur dari bibirnya, ‘Tidak baik bagimu, ayahku, bertakwalah kepada Allah.’ Kalimat itu ia ulangi tiga kali, lalu daun pintu kembali ditutup. Setelah itu, ia pergi. Aku bingung. Segera kumatikan video, kemudian duduk kebingungan.
Kata-kata putriku masih terus terngiang-ngiang di telingaku hingga hampir membunuhku. Aku keluar mengikuti jejak putriku, ternyata ia telah kembali ke tempat tidur. Aku seperti gila, tak tahu apa yang sedang menimpaku saat itu. Tidak lama kemudian, suara muadzin menggema di masjid dekat rumahku, memecahkan keheningan malam yang mena­kutkan. Suara itu memanggil umat manusia untuk shalat fajar. Akhirnya, aku pun berwudhu’ dan berangkat ke masjid. Sejatinya, aku tidak begitu ingin shalat. Tetapi, kata-kata putriku mengusik ketenanganku.
Shalat subuh didirikan. Sang imam menguman­dangkan takbir, kemudian membaca ayat Al-Quran. Ketika ia sujud, dan aku juga ikut sujud di belakangnya, kuletakkan keningku di atas hamparan bumi, tangisanku pecah seketika. Aku tidak tahu apa sebabnya. Inilah pertama kali aku bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sejak tujuh tahun yang silam.
Tangisan itu membuka pintu kebaikan untukku. Seluruh kekafiran, kemunafikan, dan keburukan yang menodai hatiku keluar bersama tangisan itu. Semenjak itu, aku mulai merasakan arus keimanan menjalari sanubariku. Sehabis shalat, aku duduk sejenak, kemudian kembali ke rumah. Aku tidak tidur sampai berangkat kerja. Setibanya di kantor, temanku merasa aneh melihatku datang pagi. Biasanya, karena begadang, aku selalu datang terlambat. Ditanya mengapa datang pagi, kuceritakan pada temanku seluruh peristiwa yang kualami tadi malam. Temanku bilang, ‘Segala puji bagi AllahSubhanahu wa Ta’ala yang telah mengirim putri mungilmu untuk menyadarkanmu dari kelalaianmu. Beruntung AllahSubhanahu wa Ta’ala tidak mengutus malaikat maut untuk mencabut nyawamu pada saat itu.’
Menjelang waktu Dzuhur, aku merasa capai, karena tidak memejamkan mata sekian lama. Kuminta temanku meneruskan pekerjaanku, dan aku bermaksud pulang untuk beristirahat. Di lubuk hatiku terpendam kerinduan membara untuk segera melihat putri mungilku. Dia telah menjadi penyebab terbukanya pintu hidayah bagiku, juga mengembalikan aku kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. “
Lebih lanjut ia berkata, “Aku pun pulang ke rumah membawa kerinduan membara untuk segera bertemu putriku. Saat itu, kurasa kakiku bersaing dengan embusan angin. Setibanya di rumah, tidak seperti biasa kulihat istriku berdiri di depan pintu. Di hadapanku ia berkata lantang, ‘Ke mana saja engkau?’ Kujawab, ‘Aku di tempat kerja.’ Ia bilang, ‘Kami telah berusaha menghubungimu berkali-kali, tetapi tidak ada. Di mana saja engkau?’ Kujawab, ‘Aku di masjid kantorku. Memangnya, apa yang terjadi? Mengapa engkau berdiri di depan pintu seperti ini?’
Istriku berkata lirih, Putrimu telah tiada.
Ia bilang, “Berita itu memukul telak jiwaku. Ta­ngisanku pecah seketika. Tidak ada yang ingat selain perkataan putriku, ‘Tidak baik bagimu, ayahku, ber­takwalah kepada Allah… Tidak baik bagimu, ayahku, bertakwalah kepada Allah.’
Aku menghubungi temanku. Kusampaikan padanya bahwa anak yang telah mengeluarkanku dari kegelapan menuju benderang cahaya telah tiada.
Tidak lama kemudian, temanku datang. Aku masuk memandikan dan mengafani putriku. Orang-orang membawanya ke masjid untuk dishalati, kemudian dibawa ke kuburan. Temanku bilang, ‘Ambillah putrimu, dan kuburkanlah.’
Kuambil putriku, lalu kukuburkan. Kubilang kepada or­ang-orang di sekitarku, ‘Demi Allah, aku tidak menguburkan putriku, melainkan cahaya yang menerangi jalanku kepada Allah. Anak ini telah membukakan pintu hidayah untukku. Aku berharap, semoga Allah mem­pertemukanku dengannya di surga.’
Orang-orang yang hadir di pemakaman ikut meneteskan air mata. Hati mereka hampir terputus karena menahan kesedihan yang mengharu biru atas kepergian anak kecil itu.
Begitulah saudaraku…
Tidak seorang pun tahu kapan malaikat maut datang menjemputnya. Kematian tidak mengenal besar dan kecil. AllahSubhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya” (An-Nahl: 61).
Karena itu, segeralah kembali kepada Allah. Segeralah bertaubat dengan tulus. Semoga taubat yang tulus menjadi penutup usia, dan menjadi balasan terbaik di surga Yang Mahapengasih. [Mawaqif Min Hayat Al-Anbiya', hlm. 123]
(Sumber: Buku ”Kisah Orang-orang Shaleh dalam Mendidik Anak,” Pustaka al/Sumber foto: nenoneno.wordpress.com)