Wajah
tirus Hani dengan kepala tak berambut sedikit bergerak. Mata cekung,
dulu jenaka yang menyimpan banyak keceriaan dan keoptimistisan, kini ia
memandangku dan mengerjap dengan layu . Seakan-akan ada yang ingin
diungkapkannya. Kuhampiri tubuh yang lemah itu, dan kugenggam
tangannya."Ada apa, Han..?"
Suara
tilawah Al- Quran Mama terhenti ketika menyadari ada sesuatu yang
diminta Hani."Kenapa, sayang..? Ada yang sakit?." Tanya mama dengan
suara parau.
Sudah
sekian hari, Mama memang banyak menangis untuk Hani. Di tiap-tiap
malamnya, Mama mengucurkan air mata, memohon kepada Allah, untuk mau
mendengar "bargaining" di dalam doa-doa Mama. Agar Allah mau mengulur
waktu untuk Hani sampai beberapa waktu saja. Mulut Hani bergerak-gerak,
kudekatkan telingaku pada wajahnya, agar dapat menangkap apa yang
diungkapkannya.
"Asy..ha..du alla..."
Tiba-tiba
aku menyadari "waktu itu" sudah dekat. Ku menoleh pada Mama, ia seperti
mengerti. Lalu Mama bergegas menuju pintu, memanggil Papa, dan Aria,
adik iparku. Dua orang laki-laki, yang akan kehilangan orang yang
dicintai itu, segera masuk dan menanti apa yang terjadi kemudian.
Kupakaikan kerudung putih pada kepala tanpa rambut yang melemah itu.
Kulakukan ini karena pesan terakhir Hani, jika "saatnya" tiba ia tidak
mau dalam keadaan "telanjang" menghadap Allah. Papa tampak ikhlas,
begitu juga Aria. Lalu Aria menyerahkan Umar, keponakanku yang belum
genap satu tahun usianya, kepadaku."Tolong, Mbak..Biar saya yang menjaga
dik Hani."
Umar
tetap tertidur pulas, walaupun posisi gendongan berpindah, dia tidak
terbangun sedikit pun. Bocah kecil sebelas bulan ini tak menyadari,
bahwa sebentar lagi, ibunya akan segera meninggalkannya. Dokter Ruslan
bergegas masuk untuk melakukan tugasnya sebagai dokter.
"Biarlah,
dokter..Insya Allah Kami sudah ikhlas..". Suara tegar Papa berkata.
Dokter Ruslan mengangguk seraya berkata, “Mudah-mudahan anak Bapak
diberi kemudahan oleh Allah.."
Perlahan-lahan,
Aria membantu Hani membacakan syahadah di telinga Hani. Kemudian mulut
Hani bergerak-gerak dengan mudah. Dan genggaman tangannya tampak mulai
melemah. Ada butiran air mata yang bergulir dari matanya yang terpejam.
"Sakitkah
adikku, sayang?" batinku dengan penglihatan kabur karena terhalang air
mata. Aku menatap wajah Hani yang sedang bertarung melepas nyawa.
Napas
Hani satu-satu, jaraknya makin lama makin panjang. Papa dan Mama
membaca syahadah berkali-kali. Dan akhirnya napas Hani pun terhenti...
"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun..."
*****
Hanifah,
adikku, Hani begitulah dia dipanggil. Umurnya berbeda 4 tahun dariku.
Tapi Hani, perawakannya yang tinggi, lagaknya yang tomboi serta
rambutnya yang berpotongan pendek, membuat orang-orang sering salah
terka. Mereka mengira Hani, cowok, jika melihatnya sepintas dari
belakang. Aku teringat, teman-teman cowok sekampus meledekku ketika aku
mengajak Hani hadir ke Baksos Masjid kampus.
Mereka, yang relatif tahu aku adalah " Si jilbab galak", meledekku,"Wah kemajuan nih,
Adelina...Ternyata berani juga mengajak cowoknya ke kampus.."Mendengar
itu aku geli, tapi tidak demikian dengan Hani."Siapa yang berani ganggu
Mbak Adelina?". Tanya Hani berbalik sewot menghadapi teman-teman cowokku
yang iseng tadi.
Seketika
mereka terpana, menyaksikan bahwa "cowok" Adelina adalah cewek manis
yang tak kalah galak dari kakaknya. Itulah Hanifah. Siapa pun 5 tahun
lalu, tak akan mengira dia akan memakai jilbab. Hani menikah di usia
muda, bahkan mempunyai anak.
Kami
3 bersaudara, Mas Ardi, aku, dan si bontot Hanifah. Karena pendidikan
orang tuaku yang demokratis dan bijaksana, kami bersaudara sangat rukun
dan saling sayang satu sama lain. Dan lebih dari itu, kami saling
memengaruhi satu sama lain. Ketika Mas Ardi harus kuliah di Bandung, aku
dan Hani menangis, karena kehilangan "bodyguard" yang selalu mengantar
kami ke mana-mana. Hani memaksaku, agar tak ikut-ikutan pilih
universitas yang harus meninggalkan rumah seperti Mas Ardi.
Setiap
pulang, Mas Ardi selalu membawa banyak perubahan. Tahun pertama ketika
aku SMA, Mas Ardi masih suka merokok di sela-sela menggambar tugas
arsiteknya. Namun setelah itu, Mas Ardi lambat laun menghilangkan
kebiasaan merokoknya. Setiap pulang semesteran Mas Ardi banyak membawa
majalah dan buku-buku Islam. Mas Ardi mulai mengajak kami, adik-adiknya,
shalat berjamaah dan membaca Al- Quran bersama di rumah. Alhamdulillah,
pada saat itu aku berhasil masuk FE UI, sehingga tak perlu meninggalkan
rumah seperti Mas Ardi. Setelah menjadi mahasiswi juga mungkin imbas
yang kuat dari Mas Ardi, aku mulai mengenal Islam. Aku mulai
mencari-cari untuk apa sebenarnya aku hidup. Dan, Alhamdulillah, aku
menemukannya dalam aktivitas keislaman yang aku ikuti di kampus.
Namun
yang aku heran, imbas tersebut tak mengenai Hani sama sekali. Hani
tetap saja tomboi, dan malas jika aku ajak pergi ke pengajian. Walaupun
demikian, Hani adalah adik kebanggaanku. Di antara lagaknya yang tomboi
dan sikapnya yang manja di rumah Hani adalah juara kelas di sekolahnya,
dan kapten di grup basketnya. Sifatnya yang tak ingin kalah dari orang
lain, dan serius ketika menekuni sesuatu, membuat dia bisa menjadi
sukses dalam bidang yang disenanginya, seperti pelajaran atau basket.
Aku
masih ingat, ketika untuk pertama kalinya dia harus mendapat rangking
ketiga di kelasnya. Hani menangis di kamar seharian. Tapi, yang ini juga
sifat Hani yang membanggakan, Hani cepat bangkit dari keterpurukan.
Dengan menyetel kaset grup Queen idolanya, yang berisikan lagu We are the champion, Hani membangunkan semangatnya sendiri, dan dia bisa ceria lagi keesokan harinya.
Hingga
pada suatu hari, Hani menemukan hidayah itu... Di balik kegagahan dan
ketomboiannya, aku tahu ada sebongkah hati yang tulus dan lembut. Dan
itu terbukti ketika aku mengikutsertakan Hani ke kegiatan baksos di
kampus untuk ketiga kalinya. Kala itu dia kelas 3 SMA. Hani masih tetap
dengan rambut cepak, kaus t-shirt putih, dan celana jeans hitam
kebangsaannya. Di baksos itu kami memang mengumpulkan baju-baju bekas
untuk kaum tak punya. Hani memang punya banyak baju yang sudah tak
dipakainya. Tapi sayang, baju-bajunya selalu dikelompokkan untuk bocah
laki-laki.
Beberapa jilbab dan baju muslimah ku sisihkan khusus."Untuk siapa, Mbak..?" . Tanya Hani
"Ini
untuk Mbok Siyem, yang jualan rokok di depan mesjid. Katanya anaknya
yang SMP juga pakai jilbab,"terangku."Oooo.."Hani membundarkan
mulutnya.
Baksos
belum mulai ketika aku dan Hani tiba di depan masjid kampus. Karena
masih ada waktu aku bergegas menemui Mbok Siyem yang selalu mangkal
di dekat masjid. Tapi aku terkejut ketika aku tak menemui Mbok Siyem
seperti biasa. Hanya Ijah, anaknya, yang menunggui warung.
"Lo,
Mbok Siyem ke mana..?"Tanyaku pada Ijah.Ijah, bocah kecil kelas dua SMP
itu, menjawab,"Mbok sedang sakit. Dari kemarin muntah-muntah." Ijah tak
tampak sedih, malah tampak biasa saja.
"Ini
Mbak bawakan baju buat Ijah, kemarin-kemarin si Mbok wanti-wanti
meminta untuk membawakannya untukmu." Wajah Ijah yang tadi tampak
biasa-biasa saja, kini tampak haru. Ijah menangis."Mbok bilang, kalau
Ijah sabar dan ikhlas dengan dua baju, pasti Allah akan memberikan
lebih. Dan ternyata benar..." Katanya terisak, mengusap ingus yang
keluar dengan jilbab coklatnya, yang ku ingat adalah pemberianku setahun
lalu.
Setelah
baksos selesai, kami menjenguk Mbok Siyem, yang bukan kepalang terkejut
dengan kedatangan kami. Waktu itu Mbok Siyem kelihatan sehat, tak
seperti orang sakit. Walau beberapa hari setelah itu Mbok Siyem
meninggal dunia..
Peristiwa
itu rupanya terpatri dalam di kalbu Hani. Sejak hari itu, Hani segera
memakai kerudung. Tak ada yang menyuruh,tak ada yang meminta. Sehingga
Mama melongo, melihat bontotnya menjadi feminin seketika. Lalu siapa
yang sangka Hani menjadi akhwat seperti sekarang? Dulu dia memang senang
basket, sampai poster Michael Jordan memenuhi tembok kamarnya. Dulu dia
memang senang Queen, sampai tak ada lagu-lagunya yang tak dihapalnya.
Tapi beberapa bulan setelah mengaji, Hani melepas semua poster-poster
tersebut, dan mendepak kaset-kaset lagu ingar bingar itu. Walau aku
tahu, Hani menangis semalaman untuk berpisah dengan segala hobi dan
kesenangannya. Tapi itulah Hani, esok selalu disambutnya dengan penuh
semangat menantang dan keoptimisan.
Dan
perkembangannya yang luar biasa setelah aktif mengaji, sering membuat
aku dan Mas Ardi terharu. Sampai puncaknya pernikahan Hani 4 tahun
lalu...Papa marah, Mama kesal, karena Hani dianggap mendahului aku dan
Mas Ardi. Apalagi Hani masih 19 tahun dan masih tingkat dua...! Namun
Alhamdulillah berkat diplomasiku dan Mas Ardi, bahwa kami rela
didahului, akhirnya Hani melangsungkan pernikahannya.
Hani,
kehidupannya menggapai hidayah seperti berlari. Bahkan ketika Allah
menentukan dia harus menderita leukimia di usia 21 tahun. Kegalauan
keluarga kami untuk memberitahukan Hani atau tidak, bahwa sakit-sakit
tulang yang sering Hani keluhkan bukanlah sakit biasa. Kesedihan kami
yang luar biasa, karena mengetahui Hani tak akan lama bersama kami lagi,
mengingat dokter sendiri berkata belum ada penyembuhan yang jitu untuk
penyakit kanker yang satu ini.
Sehingga
akhirnya keluarga kami bertekad untuk mengungkapkan secara jujur
penyakit Hani. Ini pun karena ada sebab yang luar biasa. Hani ternyata
hamil 4 bulan waktu itu. Aria datang memberitakan kabar gembira yang timing-nya
buruk itu kepada keluarga kami. Kami tak tahu, apakah harus menyambut
kabar ini dengan senang atau bersedih. Karena melahirkan anak adalah hal
yang tak mungkin bagi Hani, karena akan memperlemah kondisi Hani.
Namun, saat itu tak ada yang bisa menyetop Hani. Bahkan ketika kami
memberitahukan bahwa hamil dan melahirkan kemungkinan besar akan
mempertaruhkan nyawanya. Hani bersikeras untuk hamil dan melahirkan.
"Mama
juga waktu hamil kami bertiga tak pernah memikirkan keselamatan nyawa
Mama sendiri bukan..? Ayolah, Ma.. Jangan larang Hani, tapi bantu Hani
dengan doa, agar Hani diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah. Dan jika
harus meninggal pun, Hani meninggal dalam keadaan syuhada bukan..? Tapi
Ma, Pa, Hani ingin hidup, paling tidak sampai anak ini lahir.."
Dan
Allah memang Mahabesar dan Mahapengasih. Semangat dan keoptimisan Hani
memberi bekas yang dalam kepada orang di sekelilingnya. Sejak kehamilan
Hani, Mama dan Papa menjadi lebih banyak beribadah. Mama memakai jilbab,
banyak membaca Al- Quran. Begitu pula Papa, setiap Senin dan Kamis tak
ada yang terlewat dengan shaum, juga tahajud. Bahkan aku pun
menikah ketika Hani sedang rawat intensif di rumah sakit. Hani selalu
berkata, ingin melihatku menjadi mempelai sebelum dia menutup mata.
Dan
Allah menjawab semua doa-doa dan harapan kami. Hani dapat melahirkan
Umar dengan selamat, layaknya orang normal. Walau untuk itu Hani
menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sakit, dan kami selalu
dibuat cemas akan keselamatan Hani sendiri.
Ya,
dua tahun Hani berperang melawan leukimia. Tapi tak pernah terungkap
dalam ucapannya, bahwa dia menyesali nasibnya karena harus menderita
penyakit ini. Bahkan dia kerap berujar,
"Allah sayang kepada Hani, ya, Mbak...Sehingga Allah memberi batas waktu
yang jelas untuk Hani beraktivitas di dunia ini. Agar tak sia-sia..."
Ah, Hani sayang....
*****
Pekuburan
sudah sepi, gundukan tanah merah di depanku mulai dibasahi oleh gerimis
kecil yang turun satu per satu. Kulihat isyarat lambaian tangan Mas
Ardi yang berada di rombongan Mama, Papa, serta keluarga Aria mengajakku
untuk pulang. Bang Irsyad, suamiku memberikan tangannya."Insya Allah
Hani syahidah, De...Karena Hani begitu pasrah dan tawakal kepada Allah
dengan penyakitnya,"hiburnya. Aku mengangguk.
Di tanganku ada setumpuk amplop yang ditujukan kepada Umar. Surat dari Ibunya. Aku teringat percakapan kami 5 bulanan lalu.
"Ini
sebagai hadiah buat Umar setiap umurnya bertambah satu tahun, Mbak...
Aku persiapkan 15 surat, untuk Umar. Agar Umar selalu mendapat nasihat
dariku walaupun aku sudah tak bisa menyaksikan Umar tumbuh sampai dia
baligh dan mengerti. Aku titipkan pada Mbak Ade, ya..?". Hani
menyerahkan tumpukan amplop itu padaku.
"Kenapa tak kau titipkan pada Aria, bukankah dia yang lebih berhak...?" Hani tersenyum.
"Mas
Aria harus mencari pengganti Hani untuk mendidik Umar, bukan..? Tentu
tidak bijak kalau Mas Aria mengingat Hani terus, dan melupakan hal yang
satu itu,"katanya di luar dugaan. Lalu,"Mbak..., aku ingin Umar
mempunyai sifat gabungan dari kita bertiga. Perhatian seperti Mas Ardi,
tegas dan lembut seperti Mbak Ade, enerjik dan jenaka seperti ibunya..."
"Laa..Aria bagaimana, dong..?"tanyaku menahan geli..."Iya ditambah ganteng dan shaleh seperti bapaknya.."tawanya jenaka.
Mataku
kembali basah. Di detik-detik terakhir kehidupannya, Hani tak pernah
menampakkan keputusasaan. Dia tetap optimis, bahwa Allah memberikannya
penyakit sebagai ujian, maka dia harus lulus, dan bertawakal untuk jadi
pemenangnya. Ya...Juara itu telah pergi, Syuhadah itu telah pergi, pergi
tanpa beban dan tanpa keputusasaan. Pergi meninggalkan sebongkah kesan
dan bekas cinta yang mendalam. Selamat jalan the champion...
(Sumber :facebook.com/KUMPULAN CERITA PENUH HIKMAH/sumber foto:kankerleukimia.com))


00.04
Farhan

Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar