Kerupuk kulit memang sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari lidah konsumen orang Indonesia.Penggemarnya sangat banyak, yang berasal dari berbagai kalangan. Kerupuk yang gurih dan renyah inipun cocok dipasangkan dengan makanan apa saja. Ia bisa menemani soto, bakso, nasi padang, bubur ayam, dan berbagai jenis masakan lainnya. Bahkan dimakan sendirian pun enak juga.
Konsumsi
kerupuk kulit di Indonesia sangatlah besar. Anda akan dengan mudah
mendapatkannya di berbagai warung dan restoran. Memang secara statistik
belum didapatkan angka pasti mengenai jumlah kuantitatif konsumsi
kerupuk kulit di Indonesia. Tetapi melihat animo masyarakat yang begitu
besar dan keberadaannya yang tersebar luas, kita pantas menduga bahwa
konsumsi kerupuk ini sangat besar.
Besarnya
permintaan kerupuk kulit ini tentunya mendatangkan hikmah bagi industri
kecil yang bergerak di bidang tersebut. Tetapi dari hasil pantauan kami
terhadap beberapa industri kecil kerupuk kulit di Sidoarjo dan Jember,
Jawa Timur, justru menunjukkan fakta yang sebaliknya.
Beberapa
industri yang skalanya masih industri rumah tangga (IRT) itu mengeluh
tidak dapat berproduksi secara kontinyu. Beberapa IRT tersebut mengaku
sulit mendapatkan bahan baku kulit yang dibutuhkannya. Kalaupun ada
harganya sudah melambung sangat tinggi, karena minimnya pasokan dan
banyaknya permintaan. Kesulitan bahan baku ini bahkan telah memaksa
beberapa penghasil kerupuk kulit di Jember terpaksa harus menghentikan
produksinya.
Dalam
beberapa tahun terakhir ini, produksi peternakan sapi lokal kita memang
mengalami stagnasi. Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi, maka daging
impor pun didatangkan dari negara-negara Australia, Selandia Baru, dan
Amerika. Daging tersebut didatangkan dalam bentuk daging beku tanpa
tulang dan tanpa kulit. Sedangkan kulit lokal yang bagus, selain untuk
keperluan pangan, juga digunakan untuk kerajinan kulit, seperti sepatu,
tas, dan jaket. Oleh karena itu wajar jika kulit untuk keperluan kerupuk
menjadi langka dan sulit didapatkan.
Lalu
pertanyaannya, kerupuk kulit yang beredar dan banyak dikonsumsi
masyarakat itu berasal dari mana? Sebagaimana angka konsumsi, data
produksi kerupuk kulit ini juga sulit didapatkan. Apalagi kebanyakan
industri yang membuatnya adalah industri kecil atau industri rumah
tangga yang sulit dipantau keberadaannya. Dari hasil penelusuran
informasi kepada para pengusaha kerupuk kulit didapatkan fakta bahwa
beberapa industri kerupuk kulit tersebut menggunakan bahan baku kulit
impor.
Kulit
sapi impor itu konon didatangkan dari Korea dan Cina, meskipun data
secara pastinya belum didapatkan. Untuk mendapatkan bahan baku tersebut,
para pengusaha kerupuk tidak mampu mengimpor sendiri. Mereka
mendapatkan dari para pemasok dan pedagang besar yang mampu mengimpor
secara langsung dari luar negeri. Perdagangan kulit impor ini terjadi
secara sembunyi-sembunyi, tidak bisa dilakukan di pasar-pasar umum.
Bahkan pengusaha kerupuk yang tidak tahu informasi ini juga sulit
mendapatkan bahan baku tersebut.
Jika
benar kulit yang dipakai industri kerupuk tersebut didapatkan dari
impor, apalagi dari negara-negara non-Muslim, akan mendatangkan masalah
dan pertanyaan besar, apakah kulit tersebut dijamin kehalalannya? Dari
hewan yang menghasilkan kulitnya, kita masih bisa mempertanyakan, apakah
hewan tersebut benar-benar sapi ataukah babi? Sebab kulit sapi dan
kulit babi ketika diproses menjadi kerupuk akan menghasilkan jenis
kerupuk yang mirip. Bagi orang awam akan sulit membedakan antara kerupuk
kulit sapi ataukah kulit babi.
Kalaupun
seandainya memang benar kulit sapi, kita masih akan bertanya, apakah
sapi tersebut disembelih secara halal ataukah tidak? Jika berasal dari
negara seperti Korea dan Cina, akan sulit mendapatkan sapi yang
disembelih secara Islam.
Kalau
demikian, bagaimana status kehalalan kerupuk kulit yang setiap hari
disajikan di warung-warung dan kita makan? Memang sulit menentukan
status kehalalannya. Secara fisik menggunakan pandangan mata biasa, akan
sulit menentukan kehalalan kerupuk kulit tersebut. Apalagi jika sudah
disajikan secara rapi dan dikemas di dalam plastik.
Namun
sekedar tip kecil, Anda sebaiknya waspada terhadap kerupuk kulit yang
warnanya lebih putih, penampakannya lebih halus, lebih empuk dan lubang
udaranya kecil-kecil. Lebih dari itu memang sebaiknya kita waspada
terhadap makanan yang gurih dan renyah ini. Tim LPPOM MUI.
(Sumber: Republika, sumber foto: danwajg.multiply.com)


00.24
Farhan

Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar