Raut-raut
wajah yang tadi pagi keluar dengan semringah, cerah menghadapi hari,
sekarang membawa pulang kelelahan yang terpancar dari butir keringat dan
kernyit kekelahan di dahinya. Sebagian otak kecil mereka sudah lebih
dulu menyerbu rumah dengan bayangan kesegaran mandi air hangat yang
sudah disiapkan orang terkasih, disambut buah hati yang baru bisa
menjejakkan dua tiga langkah kecilnya ke bumi, kemudian melahap hidangan
di meja makan, walaupun dengan menu sederhana tapi terasa nikmat oleh
racikan tangan penuh cinta.
Beruntung
saya bisa mendapatkan tempat duduk yang enak ketika masuk ke gerbong
ini. Saya katakan "enak" karena posisinya di samping pintu kereta,
sehingga saya bisa leluasa menumpahkan pandangan ke luar kereta yang
sedang berjalan. Menyisir rimbun pepohonan, ladang, sawah, dan
perkampungan yang dilewatinya. Posisi yang menghadap ke barat,
menampilkan kanvas Mahakarya perpaduan jingga kekuningan langit dengan
hijau dedaunan. Sang mentari laksana perawan pingitan yang sesekali
mengintip malu dari sela awan. Ditingkahi sepoi angin menyapu wajah yang
letih seharian berkutat dengan gambar-gambar desain dan denah tapak di
layar monitor komputer, mengejar deadline.
Sejenak
bola mata saya terhenti pada sesosok pemuda tanggung yang duduk di
depan saya, di sisi gerbong yang berlawanan. Usianya mungkin 23 tahunan.
Dengan kemeja flannel kotak-kotak biru putih, sandal gunung, tas ransel
yang sepertinya terisi beberapa buku (diktat mungkin), bisa ditebak
bahwa pemuda itu adalah mahasiswa. Mungkin dia suka naik gunung, tapi
bisa jadi dia hanya suka berpakaian seperti itu, untuk menimbulkan kesan
cowok macho tapi cool layaknya
petualang sejati. Postur tinggi kurus, dengan rambut sedikit lebih
panjang dari potongan pria umumnya, dan kulit yang kecoklatan memang
tidak terlalu menarik untuk jadi cover boy.
Tapi
ada yang mengusik mata saya untuk tidak melepas pandangan darinya.
bibirnya ...Bibir tipis yang ikut mengukir wajah tenang itu
bergerak-gerak sedari tadi. Entah apa yang dia ucapkan, lamat-lamat,
tapi memancarkan ketenangan yang dalam di raut wajahnya. Gemuruh kereta
dan teriakan penjual asongan yang ditambah riuh suara penumpang, jelas
tidak menyisakan frekuensi bagi gelombang suara pemuda itu untuk sampai
ke telinga saya. Sementara di langit, matahari mulai mendekati
cakrawala. Kereta berhenti sejenak di Stasiun Bojonggede. Seorang ibu
setengah baya yang baru naik, segera mengambil posisi berdiri di depan
pemuda itu.
Menyadari
itu, sang pemuda segera bangkit untuk menyediakan tempat duduknya bagi
si ibu. "Gentleman juga", dalam hati saya memberi penilaian singkat.
Tidak jarang, bila kereta sedang penuh, laki-laki yang bertubuh sehat
dan kuat, tidak mau merelakan tempat duduknya bagi perempuan tua, atau
wanita hamil. Mungkin kehidupan kota membuat orang banyak berpikir
"seenaknya gue". Kelelahan menghadapi persaingan hidup sikut-menyikut,
menguras habis rasa dan budaya tolong-menolong warisan nenek moyang
bangsa. Rasa individualis yang egois semakin mewarnai beringas kota
metropolis ini. Dan kereta terus melaju menuju Jakarta.
Ternyata
ibu tadi tidak lama mengikuti perjalanan kereta senja itu. Di Stasiun
Citayam -satu stasiun setelah Bojonggede- dia turun, dan pemuda itu
kembali menikmati tempat duduknya semula. Jari-jarinya mulai bermain.
Saya perhatikan, jari-jemari kekar itu berubah fungsi menjadi alat
hitung. Oh, dia sedang menghitung-hitung ucapannya. Lincah jari-jemari
itu teratur mengikuti gerak bibirnya yang berulang setiap kali jarinya
bergerak. Riuh suasana sekelilingnya tidak membuat ia mengalihkan
konsentrasi dari aktivitas yang dia bangun sejak kereta beranjak dari
Stasiun Bogor.
Kali
ini matahari sudah sempurna bersembunyi di balik cakrawala, untuk esok
kembali melakukan perjalanannya menemani manusia yang menyebar di setiap
sudut bumi Allah mencari rezekinya masing-masing. Suara adzan maghrib
tidak terdengar di kereta yang sedang melaju membelah remang senja waktu
itu. Di depan saya, pemuda itu kini menunduk diam. Tertidurkah? Tidak.
Ternyata ia melafalkan sebait doa. Saya tahu itu, karena sesaat sebelum
kereta berhenti di peron Stasiun Depok Baru, dia menyapukan kedua
tangannya ke muka. Ternyata di sinilah tujuannya. Dia beranjak turun
membawa secercah damai yang terpancar dari wajah kurusnya. Langkah
pastinya menapaki peron, kepastian akan jejak-jejak waktu yang
terlewatkan tanpa suatu kesia-siaan.
Kepastian
untuk melangkahi hari esok yang penuh misteri, melakukan yang terbaik
yang mampu dilakukan. Kepastian bahwa Sang Pencipta senantiasa mengamati
langkah kita, dan tidak akan membiarkan kita terjatuh tanpa pertolongan
dariNya. Setiap detik waktu yang terlewat tidak akan pernah kembali.
Beruntung manusia yang bijak memanfaatkannya untuk sesuatu yang berguna
bagi kehidupan saat ini maupun nanti. Karena kebaikan sekecil apa pun
pasti ada balasannya kelak. (Keusuma)
(Sumber:eramuslim.com,sumber foto: ayahzaid.blogspot.com)


00.23
Farhan
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar